For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Si Ucil, Sinema Edukasi untuk Anak

Si Ucil, Sinema Edukasi untuk Anak

Si Ucil, Sinema Edukasi untuk Anak

 

 

SOLO (iklankoranku.com) Kita tentu tidak asing dengan sebuah pameo “tontonan sekaligus tuntunan”. Ironisnya, saat ini siaran yang ditayangkan televisi kurang memperdulikan aspek kebutuhan anak

Anak disuguhkan tontonan yang tidak mendidik. Sinetron kerap menayangkan kisah anak sekolah mulai berani pacaran, tawuran, membantah orang tua ketika diberi nasihat, mencontek saat ujian dan hal- hal lain yang menyimpang.

Kondisi ini mengundang keprihatinan sejumlah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS). Mereka terdorong untuk membentuk komunitas yang memproduksi film indie bagi anak- anak, dengan nama Komunitas Si Ucil (Sinema Untuk Anak Kecil).

Si Ucil didirikan pada 14 April 2015 lalu. Jumlah personilnya sembilan orang. Visi mereka patut diacungi jempol. Menyuguhkan sebuah tontonan yang diharapkan mampu menuntun anak- anak menjadi generasi yang baik di masa depan.

“Projek kami menggiatkan kembali film pendek anak yang isinya kaya pesan moral dan pendidikan” ujar Desy Irma Mistianti, salah satu penggagas komunitas Si Ucil, Kamis (8/2/2018)

Desy mengatakan, secara berkala komunitasnya mengadakan kegiatan nonton bareng dengan anak-anak dan dilanjutkan ngobrol santai tentang film yang telah ditonton. Setelah itu anak-anak diajak memainkan game-game edukatif.

“Karena kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya, kami baru bisa ngajak anak- anak nonton film secara berkala” imbuh Desy.

Komunitas Si Ucil aktif mencari mitra untuk diajak nonton bareng. Biasanya menawarkan diri ke beberapa komunitas anak di sekitar UNS atau dusun binaan mahasiswa UNS. Karena keterbatasan yang ada Si Ucil baru bisa membuat satu judul film yang berjudul PR. Pemerannya pun anak- anak binaan dari komunitas yang turut bermitra.

“ Film indie pertama kami berjudul PR, sebelum memiliki karya sendiri kami menonton film Boncengan karya Mas Seno Aji Julius dan Sanggar Cantrik Yogyakarta” tutur Desy.

Diakui Desy, karena kesibukan masing-masing personil, komunitas Si Ucil belum bisa menjangkau lokasi yang lebih jauh. Ia sangat berharap mahasiswa di Solo bisa bergabung dengan komunitas Si Ucil, sehingga komunitas ini bisa lebih aktif dan memiliki jangkauan yang lebih luas.

Si Ucil belum memiliki sekretariat resmi selama ini mereka berkumpul secara nomaden alias berpindah- pindah antara taman cerdas panggungrejo atau warung makan sekitar kampus. Untuk berinteraksi dengan Komunitas Si Ucil pembaca bisa mengakses sosial medianya.

Fb @Si Ucil, Twitter @siucil_solo, IG @siucil_solo dan tumblir @siucilsolo. (as)

 

leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top