For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Shoim Syahriyati, Mantap Jadi Pendamping Anak

Shoim Syahriyati, Mantap Jadi Pendamping Anak

Shoim Syahriyati, Mantap Jadi Pendamping Anak

SOLO (iklankoranku.com) Kiprah Shoim Syahriyati bagi dunia anak tak perlu diragukan lagi.  Sejak lajang dan bahkan berkeluarga ia tetap mendedikasikan diri sebagai pendamping atau fasilitator anak-anak.

 

Dunia anak dan persolannnya, seolah tidak terpisahkan dari rutinitas perempuan kelahiran Surakarta, 26 Oktober 1972 ini. Meskipun hari libur ia masih menyempatkan waktu untuk menunaikan tugasnya sebagai fasilitator anak. Mulai dari mendampingi kegiatan anak- anak di bawah yayasan Kakak atau menjadi narasumber di berbagai kesempatan.

 

Mulanya alumnus SMA 4 Surakarta ini lebih tertarik dengan dunia kedokteran. Namun, takdir menghendaki lain, ia justru menjadi alumnus Fakultas Teknis, Jurusan Arsitektur UNS. Bangku kuliah pula yang mengantarkannya mengenal kerja kerja sosial. Ketertarikannya pada metodologi penelitian mengantrakannya bergabung di yayasan Kakak, LSM yang fokus pada hak-hak anak.

 

“Saya bergabung dengan Kakak tahun 2001, awalnya saya tertarik untuk melakukan riset mengenai sejauh mana anak mendapatkan hak ASI di Boyolali” ujarnya Senin(26/2/2018)

 

Dari riset riset yang dilakukan ia banyak mendapat pengalaman, termasuk menemukan fakta fakta memilukan. Di boyolali, ia mendapat fakta kebutuhan ASI anak tidak mendapat perhatian, lantaran tenaga kesehatan ternyata banyak mendapat bonus dan insentif dari penjualan susu formula. Di Wonogiri dalam riset prostitusi ia mendapat fakta maraknya prostitusi anak yang kerap disebut ‘kimcil’

 

Sejak saat itu, ia mulai tidak tertarik kembalipada bidangnya,arsitektur. Keinginannya untuk menjadi pekerja sosial semakin kuat. Padahal   Mayoritas keluargannya akademisi. Tak heran jika awal kesibukannya bersama Yayasan Kakak ditentang sang ayah.

 

Maklum saja, kebiasaannya menangani kasus anak- anak tak jarang menerjang bahaya. Ia harus keluar masuk ke tempat  lokalisasi . Belum lagi jika harus mendamaikan konflik anak dan orangtua.

“Ayah saya diam tapi saya tahu kalau ayah diam berarti dia tidak sepakat dengan saya,” tuturnya.

 

Shoim pun sempat tertarik memasukan lamaran di sebuah perusahaan gaji yang menjanjikan. Namun dengan pertimbangan matang dia memilih kembali ke yayasan Kakak, meskipun honor di Kakak jauh lebih kecil. Baginya ada tanggungjawab moral yang tidak bisa ditinggalkan. Selain itu, di yayasan Kakak ia tumbuh dan belajar menjadi pribadi yang  kritis dan lebih bijaksana.

“Ya waktu itu setelah diskusi panjang lebar dengan ayah dan suami akhirnya saya putuskan kembali ke Kakak, karena ini soal tanggungjawab moral,” pungkasnya. (as)

leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top