For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Saryono, Sukses Jadi Petani Alpukat Wina

Saryono, Sukses Jadi Petani Alpukat Wina

Saryono Sukses Jadi Petani Alpukat Wina

SOLO (IKLANKORANKU.COM) Perhelatan Festival Buah Jawa Tengah 3 Tahun 2018 yang berlangsung di Taman Balaikambang, Surakarta pada Sabtu hingga Minggu lalu (03-04/03/18) kemarin menyuguhkan berbagai potensi lokal Jawa Tengah.

Yang mengejutkan, dalam festival ini ada jenis buah alpulat yang rata rata beratnya per buah 1,3 hingg 1,5 kilogram. Alpukat ini di sebut Alpukat Wina.

Alpukat Wina dibudidayakan di Dusun Ngasem, Desa Jetis, Kecamatan Bandungan . Alpukat Wina tergolong memiliki kualitas premium dengan daging  buah yang lebih tebal dari pada bijinya menjadi primadona baru selain durian.

Petani yang sukses melakukan proses pembudidayaan tanaman ini ialah Muhammad Saryono (51). Siapa sangka, sebelum berprofesi sebagai petani, Sayono  berprofesi sebagai dosen Pendidikan Agama Islam di UNDARIS Semarang. Ia banting stir lantaran merasa miris terhadap kelangsungan pertanian dan perkebunan di Indonesia

Ia mengatakan, lahan pertanian dan perkebunan di kawasan Bandungan masih sangat luas. Ironisnya, generasi muda justru enggan menjadi petani. Pekerjaan sebagai petani dianggap sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi. Belum lagi terlihat kotor lantaran harus ‘bergelut’ dengan tanah dan pupuk kandang.

“Saya merasa miris, banyak lulusan perguruan tinggi tidak lagi mau menyentuh sawah, menjadi petani. Padahal lahan pertanian terbentang luas,” ujarnya (8/3/2018)

Kondisi itulah yang membuatnya mantap ‘banting stir’ menjadi petani. Baginya, menyenyam pendidikan tinggi merupakan suatu kewajiban. Namun, tidak harus pula dalam perkara mencari makan sesuai dengan bidang keilmuan. Sebab Ilmu memiliki fungsi yang lebih luas, yakni menjadi modal dalam mengarungi kehidupan..

Kerja keras dan ketekunan Saryono membuahkan hasil yang memuaskan. Kini ia memiliki 210 batang pohon Alpukat Wina yang ia dikelolanya bersama petani yang lain. Pemasaran Alpukat Wina pun sudah sampai ke beberapa kota besar.
Namun, mahalnya harga tanah di Kawasan Kabupaten Semarang membuatnya hanya mampu bermitra dengan para pemilik tanah untuk proses pengembangan tanaman Alpukat Wina.

“Harga lahan dikawasan Semarang sangat mahal, jadi kami  bisanya menjalin kemitraan dengan pemilik tanah utuk pengembangan alpukat ini,” ujar Ketua Kelompok Tani Berkah Jaya itu

Meskipun demikian, ia bersyukur.  Alpukat Wina ‘mendapat hati’ ditengah masyrakat. Permintaan tidak hanya dari kota besar namun juga dari luar negeri. “Permintaan ada dari kota besar seperti Jakarta dan Bogor, bagkan ada juga permintaan dari Belanda dan Singapura,” pungkasnya. (as)

leave your comment


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top