For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Nur Syawaludin, Penggagas Sedekah Waoreng Moerah Wong Solo

Nur Syawaludin, Penggagas Sedekah Waoreng Moerah Wong Solo

Nur Syawaludin, Penggegas Sedekah Waoreng Moerah Wong Solo

SOLO (iklankoranku.com) Nur Syawaluddin, kelahiran surakarta, 29 Juli 1982  akrab disapa Nur WM. WM adalah singkatan gerakan sedekah yang digagasnya, Waroeng Moerah Wong Solo. Kepada iklankoranku.com Bapak dua anak ini membuka kisah di balik perjalanan gerakan sedekah Waroeng Moerah 2000.

“Ini nggak lepas dari pengalaman hidup saya tahun 2010 lalu,” ujarnya membuka kisah, Rabu (28/2/2018)

Saat itu, Nur mengaku mendapat musibah. Usaha dealer motor bekas yang dilakoninya bangkrut lantaran kena tipu hingga lebih dari 300 juta. Bahkan rumah miliknya turut amblas untuk membayar sejumlah hutang.

Dalam kondisi terpuruk ia bermuhasabah. Nur merasa ada sebab dari kemalangan yang datang padanya. Lantas ia memutuskan untuk memperdalam ajaran islam. Dari Ustadz Sayfudin, kakak ipar Nur, ia meemukan hikmah dibalik sedekah.

Kakak iparnya selalu mengajarkan, setelah mengaji ia dan jemaah lain diminta untuk menyantuni kaum dhuafa.  Ia pun sadar selama ini sedekah yang diberikannya salah dan kadarnya merupakan sedekah orang pelit.

“Usaha dealer itu saya lakoni sejak tahun 2005, hasilnya lumayan. Saya tidak sadar kalau itu ujian, untungnya jutaan tapi sedekah saya sebulan paling cuma lima puluh ribu rupiah,” ujar pemilik dealer motor jalan Patimura nomor 15, Dawung Wetan, Danukusuman itu

Merasakan ada hikmah dibalik sedekah, Nur memantapkan diri untuk rutin menyantuni kaum dhuafa degan usang pribadi. Hal itu dilakukan dengan nasi bungkus gratis bersama istrinya.

Kawasan Tempat Pembuangan akhir (TPA) Purti Cempo, Trotoar jalan slamet Riyadi, Kawasan Pasar Legi, Termial Tirtonadi, Stasiun Balapan dan sejumlah ruas jalan di kota Solo menjadi saksi bisu gerakan berbagi nasi yang dilakoni Nur.

Siapa sangka, langkah Nur mengundang perhatian. Tak sedikit orang yang turut bersedekah bersamanya, bahkan mejadi relawan. Hal ini dilakoni Nur sepanjang tahun 2011 hingga 2013.

“Dua ratus hingga tiga ratus nasi bungkus habis dibagikan dalam waktu satu jam,” katanya.

Tak ingin sendirian menikmati berkah sedekah Nur, mengunggah kegiatannya ke social media . Tak disangka, ada dermawan dari jakarta mendonasikan satu unit mobil. Nur ditantang, jika bisa menjalankan program sosial ini satu tahun. Kika berhasil mobil itu boleh dimilikinya untuk oprasional warung murah.

“Alhamdulillah mobil itu jadi hak kami untuk menjalankan kegiatan Waroeng Murah,” katanya

Lima tahun  sudah Nur menyisir sudut kota solo. Menyapa kaum papa dengan sebungkus nasi murah, Rp 2000 rupiah. Tak sepeserpun uang pejualan hinggap di dompetnya.

“kami tidak mengambil keuntungan sepeser pun. Semua hasil penjualan di hari senin sampai kamis nanti kamu belajakan untuk memberikan nasi kotak gratis setiap malam ahad untuk kaum dhuafa dan tuna wisma,” katanya

Melalui Waroeng Murah Wong Solo Nur juga ingin menyampaikan arti penting  pentingnya berseekah, dan menghindarkan diri dari sikap meminta-minta. Cukup dengan bekerja dan mendapat uang dua ribu rupiah ternyata cukup untuk membeli sebungkus nasi

leave your comment


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top