For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
LKG TPQ  Soloraya, Menjaga ‘Denyut’ Kehidupan TPQ

LKG TPQ Soloraya, Menjaga ‘Denyut’ Kehidupan TPQ

LKG TPQ  Soloraya, Menjaga ‘Denyut’ Kehidupan TPQ

SOLO, iklankoranku.com -Hidup segan mati tak mau, begitulah kesan rata-rata kondisi Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) di Solo dan sekitarnya. Padahal TPQ menjadi tempat pertama pengenalan agama sejak dini. Ironisnya perhatian pemerintah dan masyarakat sangat kurang.

Sepanjang tahun 2007 hingga 2011 banyak TPQ ‘gulung tikar’. Ada pula yang ‘mati suri’, hanya aktif saat bulan ramadhan. Bahkan tidak lagi ada berbagai even untuk mengapresiasi kreatifitas santri TPQ dan pengajarnya.

“Kondisi itulah yang mengndang keprihatinan kami dan menjadi alasan kenapa LKG TPQ Soloraya berdiri,” ujar Abdul Wahab Ketua  LKG TPQ Soloraya, Rabu (28/3/2018)

Wahab menginisiasi silaturahmi guru TPQ se soloraya 5 Mei 2011. Inilah yang menjadi momentum kemunculan LKG TPQ Soloraya. Sebanyak  1500 guru TPQ dari berbagai komunitas hadir dan berkomitmen untuk menbangkitkan lagi gerakan TPQ. Kesadaran itu akhirnya menkristal dalam wujud LKG TPQ Soloraya.

“LKG ini menjadi perekat antar komunitas TPQ, sekaligus merawat keberjalanan TPQ misalnya memberikan pelatihan bagi guru TPQ bisa dibilang menjaga denyut kehidupan TPQ,” imbuhnya

Hingga saat ini dua even besar tahunan, menjadi agenda rutin yang tidak pernah ditinggalkan. Yakni silaturahmi guru TPQ dan safari santri TPQ se Soloraya. Siapa sangka, kegiatan ini mampu memompa semangat untuk menghidupkan pendidikan TPQ. Bahkan melalui event ini antar komunitas bahkan antar guru TPQ saling memberikan motivasi dan berbagi pengalaman.

Dampak kegitan tersebut cukup terasa. Ratusan TPQ yang mati suri kembali bermunculan. Hal dibuktikan dengan jumlah peserta silaturahmi guru TPQ Soloraya yang di ikuti 400 komunitas dengan total 2500 guru TPQ. Safari santri TPQ juga diikuti 28 ribu santri.

Namun diakui Wahab, demikian terdapat satu persolan yang hingga kini belum dapat di selesaikan. Yakni krisis pengajar TPQ.  Ia mengungkapkan, bahwa jumlah guru dan santri tidak berimbang. Satu TPQ dengan rata-rata 50 santri hanya memiliki dua hingga tiga orang guru. Akibatnya aktifitas TPQ masih berorientasi pada melek Al Qur’an hafalan surat dan doa.

“Padahal banyak materi dasar yang harus diajarkan seperti akhlaq, adab, aqidah, ibadah, fiqh dan siroh,” ungkapnya

Di sisi lain mati surinya kegiatan TPQ tidak lepas dari lemahnya kaderisasi pengajar. Banyak santri TPQ berhenti mengaji saat menginjak remaja. Tak hanya itu, desakan kebutuhan ekonomi membuat para pengajarnya berhenti. Maklum saja, kesejahteraan pengajar TPQ belum mendapat perhatiaan. Disadari Wahab,  persolan ini tidak dapat di selesaikan oleh LKG TPQ Soloraya.

“Maka sebenarnya kami sangat berharap masyarakat, perguruan tinggi, lembaga dakwah, lembaga sosial dan  pemerintah harus turutt memberikan perhatian,”pungkasnya. (as)

leave your comment


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top