For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Kisah Cinta Di Balik Sendang Nganten, Bikin Terharu

Kisah Cinta Di Balik Sendang Nganten, Bikin Terharu

Kisah Cinta Di Balik Sendang Nganten, Bikin Terharu

SOLO (iklankoranku.com) Dibalik khasiat yang dipercayai sebagaian masyrakat, ternyata Sendang Nganten menyimpan kisah pilu. Ketua Pokdarwis Kelurahan Jebres, Albertus Joko Prasetyo mengatakan Sendang Penganten konon bermula dari sebuah kisah cinta Jumirah, salah satu anak abdi dalem Keraton Surakarta yang yang akan menikah dengan pengangtin laki lakinya yang bernama Sangkalan.

Dua insan itu telah berjanji untuk menjalin hubungan sehidup semati. Namun hubungan mereka di tentang keras oleh ayah Jumirah, yang merupakan abdi dalem Keraton Surakarta. Pilihan Jumirah membuat membuat ayahnya merasa terhina. Sebab Sangkalan hanya anak wong pidak pejarakan alias anak orang miskin.

Cinta jumirah yang begitu besar, membuatnya berani ia melarikan diri bersama dengan kekasih hatinya itu. Mereka melarikan diri dan hendak memulai hidup baru dengan ikatan perkawinan. Namun, saat arak-arakan pengantin tiba di sekitar Kampung Kandangsapi, utusan ayah Jumirah menghadang. Terjadilah pertengkaran hebat antara pengiring penganten dengan utusan ayah Jumirah. Peristiwa aneh dan menggemparkan pun terjadi.

“Ditengah perseteruan antara urusan kerajaan dengan arak arakan pengiring pengantin itu, pasangan pengantin itu lenyap dan menjadi sendang,”tuturnya, Selasa (9/2/2018)

Lambat laun, sendang tersebut di keramatkan oleh masyarakat sekitar, terlebih tumbuh pohon kepoh di sendang tersebut. Kepercayaan akan keramatnya Sendang Nganten semakin menguat. Dahulu mayarakat sekitar mempercayai, apa bila seseorang belum memiliki jodoh dan ingin segera mendapat pasangan hidup maka harus mandi dengan air dari sendang tersebut .

Kepercayaan lantas berkembang, akan terjadi petaka jika calon penganten dari wilayah setempat tidak melakukan ritual di Sendang Nganten. Tak hanya itu, keluarga yang di rajut akan berantakan. “Bahkan ada juga kepercayaan ibu yang usia kandungannya masuk tujuh bulan, jika tidak melakukan ritual mitoni di sendang itu, diyakini bayinya kan lair cacat,”imbuhnya

Joko yang masih Keturunnan Ki Demang Jebres menambahkan, sebelum tahun 1980 sendang penganten masih sering dikunjungi orang untuk mengadakan ritual slametan pada bulan Suro dalam penanggalan jawa. Kerena diyakini, jika slametan tidak dilakukan disekitar sendang, maka akan terkena pagebluk atau terserang wabah penyakit.

“Tapi sekarang sudah jarang yang melakukan ritual di situ, tapi ini tetap sebuah kearifan lokal yang sebenarnya harus dijaga.”pungkasnya (as)

leave your comment


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top