For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Giyarto, Menekuni Kerajinan Wayang Kardus Demi mempertahankan Tradisi

Giyarto, Menekuni Kerajinan Wayang Kardus Demi mempertahankan Tradisi

Giyarto, Menekuni Kerajinan Wayang Kardus Demi mempertahankan Tradisi

Tumpukan wayang dengan berbagai macam karakter tokoh memenuhi rumah Giyarto
(54), warga Jomblang rt 3/rw 2 Desa Ngaglik Kecamatan Bulukerto patut dibanggakan.
Pria paruh baya itu di kenal sebagai pengrajin wayang kardus. Melestarikan tradisi dan
mengurangi pengangguran menjadi obor semangat bapak dua anak itu memilih jalan
hidup sebagai pengrajin wayang kardus.

“wayang kulit sebenarnya saya juga bisa bikin, tapi harganya mahal. Kalau dari kardus
memang mudah rusak, tapi semua kalangan bisa memainkan, anak anak bisa, dewasa
juga bisa, buat hiasan dinding juga tidak kalah bagus,” ujarnya

Giyarto mengaku sebelumnya berjualan bakso di Jakarta, setelah gagal mengais rejeki
di ibukota ia memutuskan pulang kampung. Tahun1985, pria yang sejak kecil bergelut
dengan seni karawitan dan gemar mendengarkan wayang kulit itu lantas belajar
menatah wayang kardus dari tetangganya. Dalam hitungan 11 hari ia dapat
menghasilkan karya wayang kardus yang bagus. Dari 100 kilogram kardus snack
setidaknya dapat dihasilkan 250 wayang.

Namun diakui saat itu wayang kardus belum dapat diandalkan untuk hidup sehari hari.
Satu kodi wayang kardus hanya Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu rupiah. Bahkan anaknya
terpaksa putus sekolah setelah lulus SMP. Beruntung, wayang kardus mulai lambat
laun dihargai. Satu kodi wayang kardussaat ini dengan berbagai macam karakter
dijualnya seharga Rp 120 hingga Rp 150 ribu, tergantung besar kecilnya ukuran. Pundi
pundi rupiah pun mengisi kantongnya hhingga usaha tersebut diteruskan kedua
anaknya.

“banyak tetangga dan sesame pengrajin yang bilang saya sudah sukses, tapi saya rasa
belum. Saya menekuni wayang kardus ini untuk melestarikan tradisi dan mengurangi
pengangguran, dan itu belum sepenuhnya tercapai,” katanya

Dengan cita-cita luhhur itu Giyarto tak segan berbagi ilmu, bahkan ia mempersilahhkan
siapa saja yang ingin belajar. Tidak ada rasa takut pada Giyarto akan tingginya
persaingan. Baginya kelestarian tradisi lebih utama. “Saya yakin semakin banyak
pengrajin, wayang kardus semakin diminati. Apalagi banyak permintaan tapi banyak
pengrajin yang kesulitan memenuhhi target,” katanya

Aris (25) purta giyarto mengatakan dalam dua minggu dapat menghasilkan 250 wayang
kardus. Dalam satu bulan ia mendapat omset Rp 3 juta. Bahkan ia pernah mencapai
oms kali pengiriman ke Prancis dengan omset Rp 9 juta. Sedangkan untuk di dalam
negeri penjualan wayang kardus telah tersebar di bebrapa kota, seperti Solo, Klaten,
Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Salatiga, Bitar, ponoroga dan sejumlah kota lainnya.

Bantuan

Giyarto mengungkapkan, di Bulukerto setidaknya terdapat 40 pengrajin wayang kardus.
Namun demikian, perhatian pemerintah daerah pada pengrajin wayang kardus belum
sepenuhnya dapat dirasakan. Kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga ringan dinilai
memberatkan pengrajin. Sebab barang yang dibuat belum laku terjual, pengrajin harus
terbebani bunga.

Menurutnya bantuan berupa hibah modal usaha dan pengutan kelembagaan menjadi
solusi yang dapat mengembangkan usaha para pengrajin. Terlebih pengusaha yang
memasok bahan baku kardus kerap memainkan harga. “kendala kami adalah
permodalan, karena seringkali pengusaha yang punya bahan baku memainkan harga
dengan menaikan harga bahan baku seperti kertas dan cat. Kalau ada bantuan hibah
modal usaha dan pengarjin ini dibuat koperasi pasti akan lebih berkembang,” katanya

leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top