For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
Anin Astiti Asyik Bergelut Dengan Photogram

Anin Astiti Asyik Bergelut Dengan Photogram

Anin Astiti Asyik Bergelut Dengan Photogram

 

SOLO- (iklankoranku.com) Kesibukan bekerja bukan menjadi
halangan untuk menggeluti hobi, termasuk fotografi. Bagi yang
hobi bergelut dengan kamerakecepatan dan ketepatan dalam
mengabadikan momen bisa mewujud menjadi karya foto luar
biasa terlebih jika didasari pengtahuan dan teknik foto yang
handal.

Setidaknya itulah kegiatan seru yang dipilih oleh Anin Astiti, di
sela kesibukannya mengajar sebagai dosen di Jurusan Fotografi
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ibu muda dari dua orang
anak ini menganggap dunia fotografi sebagi sarana apresiasi
terhadap lingkungan sekitar. Banyak karya- karyanya dipamerkan
tanpa niat untuk mengkomersilkan.

“Saya kurang telaten dalam urusan bisnis, saya memutuskan
pure untuk berkarya artinya saya berikan untuk apresiasi saja,”
ujar Alumni ISI Yogyakarta ini kepada Iklankoranku.com belum
lama ini.

Tema fotografi yang paling disukainya adalah tentang kehidupan
kota yang sibuk serta gerak kota yang dinamis. Selain memiliki
tema khusus di setiap karyanya, Anin memiliki style tersendiri
dalam karyanya.

Anin kini lebih memilih mengembangkan teknik photogram kamar
gelap. Sejak beberapa tahun terakhir dia mulai fokus pada teknik
kamar gelap, sebuah teknik pengambilan gambar yang di era
digital ini mulai ditinggalkan orang. Menurutnya proses
perkembangan dunia fotografi pada mulanya diawali dari
photogram.

“ Saya berusaha menggali memunculkan kembali teknik lama
namanya photogram, yang sempat berkembang di era analog,”
tuturnya.

Anin berharap dengan semangatnya menggali kembali nilai
estetik dalam photogram mampu memotivasi para mahasiswanya
di ISI Surakarta. Baginya photogram memiliki nilai yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan dunia digital utamanya jika dilihat
dari esensi sebuah fotografi.

Memang tak semua orang bisa sabar mengerjakan photogram.
Sebab, pembuatan karya photogram memerlukan kesabaran dan
ketelatenan. Diawali dengan membuat sketsa objek yang
diinginkan dengan pensil, mencari pernak- pernik pendukung
photogram, menempelkannya pada kertas foto. Belum lagi
selama masa pengerjaan harus jeli menentukan jarak atau skala
antar objek hingga hasil yang diinginkan.

“Photogram kan tidak ada negatifnya jadi kalau salah ya harus
ngulang lagi paling banyak sampai enam kali baru jadi, pernah
juga sekali langsung jadi,” ucapnya.

Biaya produksi untuk pembuatan photogram juga cukup mahal
untuk 100 lembar kertas foto berukuran 10R dia bisa
menghabiskan Rp 1 juta. Belum lagi material- material seperti
bahan pembuatan maket yang digunakan sebagai pendukung
photogram. Meskipun, kadang- kadang materi photogram bisa
memanfaatkan benda- benda yang ada di sekitar misalnya kertas

sampul, tisu, kain, beras tentu saja sesuai sketsa yang sudah
dibuat dan hasil bayangan yang diinginkan.

“Saya tertarik dengan photogram karena bayangan yang
dihasilkan di kertas foto, kertas foto itu kan sensitif cahaya
makanya pengerjaan harus dikamar gelap,” terangnya.

Anin pun sempat memamerkan beberapa karya fotografinya yakni
pada tahun 2016 Anin membuat pameran fotografi photogram
tunggal di Restoran Kusuma Sari Solo. Pada tahun 2017 dia
menampilkan karya serupa di Awor Coffee and Gallery, YAP
Square, Yogyakarta. Pameran foto grafi tunggal tersebut
berbertajuk Ville En Noir diambil dari bahasa Perancis yang
artinya kota.

Beberapa kota berhasil Anin jadikan sebagai tema objek
photogramnya seperti Solo, Yogyakarta dan Jakarta berbagai
momen sederhana seputar hiruk pikuk perkotaan yang
berlangsung di trotoar jalan kota hingga keramaian sebuah kafe
tak luput dari karyanya.

leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top